ELF Promise

ELF Promise

Kamis, 09 Juni 2016

"TAEYANG" (SUN)



"Ketika aku merasa aku sudah menemukan matahari dalam hidupku, kenapa matahari itu malah menghilang?"

Apa kalian pernah mendengar teori yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya?
Matahari menjadi pusat tata surya karena planet-planet bergerak mengelilinginya. Dan akan begitu terus selama dunia ini masih ada. Matahari membuat dunia yang gelap menjadi terang.

Jika di ibaratkan, aku sama seperti planet-planet yang berada dalam sistem tata surya.
Tapi bedanya aku adalah planet yang baru menemukan matahariku.

Selama ini duniaku gelap. Sama sekali tidak ada cahaya yang mampu menggantikan kegelapan itu.
Setelah mengorbit begitu lama, aku hanya menemukan bintang sebagai penerang di duniaku.
Akan tetapi karena kesibukanku, bintang-bintang itu mulai meredup satu per satu. Walaupun begitu mereka tidak selamanya hilang, karena ada saat dimana mereka akan kembali. Akan tetapi bintang tidak seterang matahari yang mampu menggeser kegelapan. Duniaku masih memerlukan matahari.

Disaat aku merasa bahwa mungkin duniaku memang hanya memiliki bintang dan tidak dengan matahari, aku mulai melihat berkas-berkas cahaya terang. Walaupun tidak sangat terang, tapi aku sadar cahaya itu bisa mengalahkan cahaya bintang milikku. Tapi entah mengapa ada saat dimana
cahaya itu membuatku sakit, tapi walaupun begitu aku tetap berusaha untuk mendekati cahaya itu.

Aku berpikir tidak masalah aku harus merasakan sakit, asalkan duniaku menjadi terang walau tidak seberapa. Tapi hal tidak terduga terjadi, cahaya itu benar-benar datang ke duniaku. Tidak hanya seberkas cahaya, tapi seutuhnya. Aku mendapatkannya. Aku mendapatkan matahariku.

Setelah mendapatkan matahariku, perlahan-lahan duniaku mulai mengitarinya secara terus-menerus.
Aku ingin bisa lebih dekat pada matahari itu dan membuat segala kegelapan yang aku rasakan hilang.
Tapi entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menahanku untuk bisa mengeluarkan segala kegelapan
itu. Bisa dikatakan kegelapan yang belum bisa hilang itu adalah bayangan. Akan tetapi walaupun begitu, aku bahagia karna kini duniaku tidak lagi gelap. Disaat matahariku ada bintangku juga tetap ada walaupun mereka redup. Dan duniaku benar-benar mengorbit pada matahariku itu. Matahari yang membawa terang serta kebahagiaan dalam hidupku.

Walaupun begitu, ada beberapa saat dimana ada hal yang membuat matahariku terasa akan lepas
dariku dan membuatku kembali kedalam kegelapan duniaku. Akan tetapi akhirnya ia tidak benar-benar keluar dari orbitalku. Disaat hal yang hampir membuat matahariku hilang berhasil diatasi, tanpa aku sadari diriku sendiri perlahan-lahan membuat awan yang cukup tebal untuk menutupi cahayanya. Awan itu terbentuk karena kegelisahan, kekhawatiran, serta ketakutanku bahwa matahariku akan hilang dan pergi. Tapi aku tidak menyadari hal itu. Aku berusaha untuk menghilangkan awan-awan tebal itu, tapi entah kenapa seperti ada penghalang yang membuat awan-awan itu tidak benar-benar hilang. Aku berusaha untuk menyingkirkan awan itu dan membuat matahari itu benar-benar kembali menyinari duniaku dengan sempurna. Aku sungguh-sungguh berusaha untuk hal itu. Tapi itu butuh proses. Aku tidak bisa dengan sekejap menggeser awan-awan itu. Awan-awan itu ada karena duniaku selama ini diliputi oleh kegelapan. Awan-awan itu juga yang membuatku sulit untuk beradaptasi, sulit untuk terbuka bahkan kepada matahariku sekalipun. Itu karena awan-awan itu sudah terbiasa disana. Aku hanya berharap matahariku bisa membantuku untuk menghilangkan awan-awan itu. Menghilangkan awan-awan yang menutupi cahayanya. Tapi sepertinya matahariku sudah terlalu lelah untuk mencoba menyingkirkan awan-awan itu. Matahariku lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan duniaku. Mengembalikan duniaku kedalam kegelapan yang hanya akan disinari oleh bintang, bintang yang redup.

Dan karna matahariku juga sudah pergi meninggalkan duniaku, aku semakin menyadari bahwa planetku berbeda. Planetku membuat semua yang berada di dekatnya menjauh secara perlahan dan
meninggalkannya sendiri. Semua yang berada dekat dengan planetku tidak pernah merasa nyaman.

Mulai saat ini, aku hanya bisa melihat matahari yang dulunya milikku dari jauh. Mungkin berkas
cahayanya masih bisa sampai ke planetku tapi aku akan kembali merasakan sakit, sama seperti
saat matahariku belum berada dalam orbitalku. Karena planetku sudah pernah memiliki matahari dan pernah benar-benar mengorbit mengelilinginya, mungkin kini cahaya bintang yang bahkan kembali dengan terang pun tidak akan bisa membuat duniaku terasa nyaman dan planetku akan kembali tanpa arah dan tujuan.

Disaat pertama kali aku mendapatkan matahariku itu, aku selalu berharap dan berdoa bahwa matahari itu akan menjadi matahari yang pertama dan terakhir bagi planetku hingga planetku hancur. Tapi sepertinya itu hanya sebatas angan. Karna kini matahariku itu telah pergi. Pergi dengan membawa segala kebahagiaan yang pernah kumiliki.

Apakah ini saatnya untukku mengucapkan "Selamat Tinggal"?
Entahlah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Yang pasti terima kasih karna telah memberikan terang yang begitu besar serta kebahagiaan dalam duniaku walaupun pada akhirnya hal itu juga ikut pergi bersamaan dengan perginya sosokmu.
Jika bisa memilih, aku akan lebih memilih planetku hancur ketika ditinggalkan oleh matahari daripada harus kembali dalam kegelapan.
Entah sekarang akan bagaimana, tapi satu hal yang aku tahu pasti. Yaitu bahwa kini duniaku tidak akan sama seperti dulu lagi. Dan mungkin kebahagiaan yang dipancarkan planetku tidak akan
sama lagi. Karna saat planetku memancarkan kebahagiaan, planetku akan terasa sakit.
Akan tetapi sekalipun akan terasa sakit, planetku masih mengharapkan kehadiranmu matahariku.
Akan selalu ada tempat untuk matahari itu jika dia ingin kembali. Bahkan jika matahari itu hanya ingin menjadikan planetku tempat persinggahan sementara ketika dia lelah, aku tidak masalah. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Tapi untuk saat ini, jangan paksa aku untuk memancarkan kebahagiaan yang tulus, karena aku membutuhkan waktu untuk kembali seperti semula.
Sekali lagi, terima kasih...


~Untukmu seseorang yang telah menjadi matahariku selama hampir 3 bulan ini...
Dari seseorang yang pernah menjadikanmu pusat dunianya... ~


Oh iya, aku hampir lupa. Karna kau adalah matahari mungkin kau bisa menganggap tidak akan ada yang berubah ataupun berbeda. Itu karna kau adalah matahari yang memang suhunya selalu sama, panas.
Tapi planet tidak begitu. Terlebih planetku adalah planet yang cukup dingin. Jadi karna planetku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki matahari suhunya tidak akan sama lagi.
Walaupun mungkin berkas-berkas cahaya dari matahari masih menyinarinya.
Bisa jadi dia akan menjadi lebih dingin.

Dan andai kau tahu, sebelum aku mempost postingan ini tadi pagi ketika aku tidur, aku memimpikan dirimu. Dan sepertinya mimpi itu adalah mimpi tersedih yang pernah ada...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar